Jejak Sejarah Desa Kranggan

  • Jul 16, 2026
  • Adin Pangayom, S.Pd

Malang – Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, memiliki sejarah yang sebagian besar masih diwariskan melalui cerita para sesepuh. Hingga kini, belum banyak catatan tertulis yang menjelaskan perjalanan desa secara lengkap sehingga penuturan masyarakat menjadi salah satu sumber penting untuk mengenal asal-usul dan perkembangan Desa Kranggan. Salah satu tokoh masyarakat yang masih menyimpan cerita tersebut adalah Bapak Gandung. Melalui wawancara bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), beliau menceritakan asal-usul nama desa, awal terbentuknya permukiman, hingga berbagai jejak sejarah yang masih dikenang masyarakat.

 

Asal-usul Nama dan Awal Permukiman

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, nama Kranggan berasal dari kata Karonggoan, yaitu kawasan tempat tinggal seorang Ronggo. Pada masa kerajaan, Ronggo merupakan gelar yang diberikan kepada pejabat yang memimpin suatu wilayah. Masyarakat meyakini bahwa orang pertama yang membuka kawasan tersebut adalah seorang Ronggo sehingga tempat bermukimnya dikenal sebagai Karonggoan. Seiring berjalannya waktu, penyebutan Karonggoan berubah menjadi Karanggan, kemudian disingkat menjadi Kranggan seperti yang dikenal hingga sekarang. Meskipun belum didukung oleh bukti tertulis, cerita tersebut masih dipercaya dan terus diwariskan oleh masyarakat.

Selain menceritakan asal-usul nama desa, Bapak Gandung juga menjelaskan bahwa permukiman awal Desa Kranggan diperkirakan berada di wilayah Kemuning. Dugaan ini didasarkan pada ditemukannya situs Lingga dan Yoni di kawasan tersebut. Keberadaan sungai dan sumber air di sekitar Kemuning juga menjadi alasan yang memperkuat dugaan tersebut. Pada masa lampau, sumber air merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehingga banyak permukiman maupun pusat kegiatan dibangun di sekitarnya. Oleh karena itu, keberadaan situs Lingga dan Yoni menjadi salah satu petunjuk bahwa wilayah tersebut kemungkinan telah dihuni sejak masa lampau.

Selama bertahun-tahun, kisah mengenai asal-usul Desa Kranggan lebih banyak disampaikan secara lisan oleh para sesepuh. Belum banyak dokumentasi yang mencatat perjalanan sejarah desa secara utuh. Kondisi inilah yang kemudian mendorong berbagai pihak untuk mulai menelusuri kembali sejarah Desa Kranggan agar dapat didokumentasikan dengan lebih baik.

 

Mengungkap Kembali Jejak Sejarah Desa

Upaya penelusuran sejarah Desa Kranggan mulai dilakukan secara lebih serius pada tahun 2021. Saat itu pemerintah desa bersama Pemerintah Kecamatan Ngajum, komunitas seni, serta sejumlah pemerhati sejarah berupaya menggali kembali sejarah lokal sebagai bagian dari persiapan pementasan budaya. Dari proses tersebut, perhatian kemudian tertuju pada sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Kranggan.

Berdasarkan hasil kajian beberapa sejarawan, prasasti tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan Prasasti Mula Malurung di Kediri. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya wilayah di sebelah timur Gunung Kawi yang memperoleh kedudukan istimewa pada masa pemerintahan Raja Wisnu Wardhana. Letak Desa Kranggan yang berada di kawasan timur Gunung Kawi menjadi salah satu alasan munculnya dugaan adanya hubungan sejarah tersebut. Meski demikian, Bapak Gandung menegaskan bahwa keterkaitan tersebut masih berupa hasil kajian yang terus berkembang dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Masyarakat juga mengenal cerita mengenai seorang tokoh bergelar Ronggo yang dipercaya pernah memimpin wilayah ini, yaitu Ronggo Warsito. Dalam cerita yang berkembang, beliau memiliki beberapa bawahan yang dikenal dengan sebutan Mbah Peking dan Mbah Kodo. Sebutan tersebut diyakini bukan nama asli, melainkan sebutan berdasarkan profesinya. Mbah Peking dikenal sebagai pandai besi yang menempa senjata, sedangkan Mbah Kodo bertugas menjaga bara api selama proses penempaan. Hingga kini, kisah tersebut masih menjadi bagian dari sejarah lisan yang terus diwariskan oleh masyarakat Desa Kranggan.

 

Desa Kranggan Pada Masa Penjajahan

Selain memiliki kaitan dengan cerita masa kerajaan, Desa Kranggan juga menyimpan kisah pada masa penjajahan Belanda. Bapak Gandung menuturkan bahwa beberapa rumah joglo di desa ini dahulu pernah dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian para pejuang. Pada siang hari mereka membaur dengan masyarakat seperti warga biasa, sedangkan pada malam hari kembali bergerak untuk melanjutkan perjuangan. Cerita tersebut masih dikenang oleh masyarakat sebagai bagian dari sejarah Desa Kranggan.

Di Desa Kranggan juga terdapat kawasan yang dikenal dengan nama Kampung Gendon. Menurut cerita yang berkembang, nama tersebut berasal dari istilah Gendom, yaitu kawasan yang pada masa kolonial pernah berada di bawah penguasaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka dan terjadi perubahan kepemilikan lahan, penyebutan Gendom lambat laun berubah menjadi Gendon hingga dikenal dengan nama tersebut sampai sekarang.

 

Perkembangan Desa dari Masa ke Masa

Setelah masa penjajahan berakhir, Desa Kranggan terus mengalami berbagai perkembangan. Salah satu perubahan yang paling dirasakan masyarakat adalah pembangunan jalan desa. Dahulu

akses utama menuju desa masih melewati area persawahan sehingga perjalanan menuju pasar maupun wilayah lain harus memutar cukup jauh. Melalui musyawarah, masyarakat sepakat menghibahkan sebagian lahannya untuk pembangunan jalan yang lebih dekat dan mudah dilalui. Semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat saat itu menjadi salah satu nilai yang masih dijaga hingga sekarang.

Perubahan lain mulai dirasakan ketika listrik masuk ke Desa Kranggan. Kehadiran listrik membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa itu televisi masih menjadi barang yang langka sehingga warga sering berkumpul di satu rumah untuk menonton bersama. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu kenangan yang masih diingat oleh masyarakat sebagai bagian dari perjalanan perkembangan Desa Kranggan.