Pemdes Kranggan Bersama Topeng Sailendra sampai di Negeri Tirai Bambu
- Jul 15, 2025
- Adin Pangayom, S.Pd
Yaoli - Jiangxi - China, program yang sedang dijalankan oleh pemuda-pemudi di desa Yaoli, Yaoli Village International Artistic Symbiosis Project yang dibuka sejak tanggal 12 Juli 2025 dihadiri berbagai negara, salah satunya Indonesia berlangsung seru dan Bombastis. Tak hanya negara dari Asia saja yang hadir, dari Afrika pun turut serta.

Yaoli Village International Artistic Symbiosis Project dibuka secara seremonial pada jam 09.45 itu dihadiri oleh beberapa negara di Asia dan Afrika, diantaranya, Korea Selatan, Vietnam, Thailand, Indonesia dan disusul Afrika Selatan beberapa hari setelahnya, Dalam acara seremonial tersebut diawali dengan pemberian souvenir yang khusus dibawakan oleh perwakilan negara yang hadir yang diserahkan kepada Professor Hardy/Xiang Yong sebagai perwakilan dari Peking University dan UNESCO Chair serta pada Huang Binbin selalu perwakilan desa Yaoli sekaligus pimpinan proyek renovasi desa.

Setelah acara pemberian souvenir oleh perwakilan negara-negara tamu, acara dihentikan sejenak untuk makan siang bersama yang membuat suasana persahabatan antar perwakilan negara terasa begitu hangat dan akrab.
Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama usai, seluruh perwakilan negara bersama-sama mendengar presentasi proyek yang dikerjakan oleh mahasiswa bersama dengan penduduk setempat dalam merenovasi serta memetakan kembali desa Yaoli sekaligus memberikan umpan balik kepada mereka. Purna acara presentasi oleh mahasiswa Peking University, para tamu bersama seluruh pengunjung dibawa untuk berkeliling desa Yaoli untuk mengenal sekaligus merasakan pengalaman yang disuguhkan oleh desa Yaoli dengan pesonanya pada tiap tempat yang dijadikan sebagai obyek wisata edukatif.
.jpeg)
Matahari di langit China mulai terbenam, rasa letih, lelah setelah berkeliling desa dirasakan semua pengunjung, saatnya menikmati makan malam sambil sejenak menikmati alunan musik dan suara merdu pada panggung hiburan sebagai tanda bahwa acara pembukaan kembali Yaoli Village telah mendekati ujungnya, seluruh perwakilan negara juga turut berpartisipasi dalam mengisi pentas seni tersebut, beberapa dari penduduk lokal berkaraoke ria, ada juga yang unjuk kebolehannya melalui permainan musik, ada juga yang mengisinya dengan mini teater menggunakan boneka sebagai tokoh perannya, tak lupa, dari Indonesia yang menampilkan tari khas Malang, Jawa Timur, Tari Bapang. Tarian tersebut diperagakan oleh Gandung Masigit Saputro, Kasi. Pemerintahan Desa Kranggan Kecamatan Ngajum sekaligus perwakilan Sanggar Sailendra, desa Kranggan kecamatan Ngajum kabupaten Malang.

Penampilan Tari Topeng Malangan "Bapang" Menjadi Primadona Panggung
Sejak awal kostum unik Tari Bapang dikenakan oleh penari, semua mata pengunjung beserta tamu undangan sudah tertuju fokus pada Bapang ini. Tak ayal memang diantara para penampil sebelumnya, properti Tari Bapang sendiri terlihat begitu memukau dengan segala keunikannya yang membuatnya lebih mencolok di antara penampil lainnya. Saat iringan musik mulai diputar dan penari memulai aksinya yang penuh tenaga dan terlihat enerjik, penonton mulai bertepuk tangan dan teriak kegirangan, ditambah pada saat peragaan tari telah selesai dan melepaskan topengnya penonton kembali berteriak, yang kemudian Gandung sedikit bercerita tentang Tari Bapang ini kepada penonton.

Usai penampilan Tari Bapang, beberapa dari pengunjung melakukan sedikit tanya jawab dengan penarinya, sebagian besar menyatakan kekagumannya, Professor Hardy -Chairman dari UNESCO Chair- bahkan memberikan pelukan persahabatannya pada Gandung sebagai penarinya seraya mengucap “that was a great performance, spectacular!”, ucapnya. Selain itu Gandung juga menerima souvenir dari Vietnam sebagai tanda kekagumannya.

Tak berhenti di situ saja, Huang Binbin sebagai pemimpin proyek renovasi desa Yaoli ini menyatakan kekagumannya, bahkan penduduk desa pun masih ramai membahas penampilan tari Bapang tersebut. Pada seusai jam makan siang hari berikutnya, Professor Hardy sedikit menyinggung tentang ketertarikannya membentuk kerjasama yang lebih baik lagi dalam waktu dekat, sepertinya desa Kranggan, Sailendra, Peking University dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya akan berkolaborasi dalam waktu yang lebih panjang dalam waktu dekat ini.
(Gandung Masigit Saputro / Pemdes Kranggan).